January 2008' Devotion
Filipi 2: 1-11
Kemarin dalam ibadah hari Minggu, ada satu hal menarik yang diungkapkan oleh Pengkhotbah. Dia bilang bahwa sejarah membuktikan kejatuhan gereja atau kekristenan itu lebih disebabkan oleh karena masalah-masalah dari dalam, daripada masalah-masalah dari luar. Di banyak tempat, tekanan-tekanan dari luar seperti penganiayaan terhadap umat Kristiani pada akhirnya lebih membuat kekristenan bertahan daripada terpecah-belah. Tetapi sebaliknya, masalah-masalah internal, konflik dan perbedaan pendapat terbukti lebih ampuh untuk menyebabkan perpecahan gereja atau organisasi kristen lainnya.
Korban dari perpecahan-perpecahan gereja sudah banyak. Sayangnya, hal ini terus saja terjadi di banyak tempat, dari waktu ke waktu. Pada akhirnya yang tertinggal adalah umat Tuhan yang menjadi apatis, menjadi tawar hati atau pun menarik diri dari kegiatan gereja. Saya melihat hal ini dialami oleh sepupu saya yang tinggal di Belanda. Dia dulunya sering hadir di salah satu gereja Indonesia yang ada di sana. Jemaat tersebut sempat berkembang pesat. Sayangnya, ada satu isu tentang masalah keuangan yang terus bertiup, yang tentu saja peniupnya adalah orang-orang di gereja ini juga. Pada akhirnya orang-orang yang menjadi oposan pemimpin gereja ini memisahkan diri dan mendirikan gereja lain. Setelah itu yang terjadi adalah perebutan jemaat lewat hasut menghasut. Akibatnya, justru jadi banyak jemaat yang kecewa dan jadi malas ke gereja.
Kalau seperti ini, tentu harga yang dibayar menjadi terlalu mahal. Kita butuh belajar dari pengalaman supaya hal-hal seperti ini bisa dihindari. Sebenarnya, hal seperti ini bukan barang baru. Bahkan di awal mula kekristenan pun, bisa jadi Paulus merasakan adanya indikasi bahwa jemaat di Filipi mengarah ke sana juga, karena itu dia menulis Filipi pasal 2 ini. Di sini Paulus menyebutkan hal-hal yang menjadi penyebab terjadinya perpecahan, yaitu mencari kepentingan sendiri, menganggap diri sendiri lebih utama daripada orang lain, dan juga mencari puji-pujian yang sia-sia. Kalau diintisarikan, inti dari perpecahan sebenarnya adalah masalah ego. Semua ingin jadi yang utama, semua ingin jadi yang paling penting, semua ingin dapat pujian. Karena itulah orang jadi sikut menyikut, saling menjatuhkan. Tidak ada yang mau mengalah.
Sangat wajar memang saat orang mau jadi yang pertama, karena dimana-mana pelayanan buat yang first class, buat yang VIP itu lebih menyenangkan dari yang umumnya. Belum juga soal status sosial yang didapat, kehormatan, kekuasaan dan lain sebagainya. Murid-murid Tuhan Yesus pun punya sifat seperti ini juga. Mereka melihat bahwa ada yang berbeda dengan Tuhan Yesus, Dia bukanlah pemimpin politik atau apa. Tapi tetap saja ada harapan dari murid-murid Tuhan bahwa Tuhan Yesus bisa benar-benar menjadi raja di dunia ini, sehingga mereka paling tidak bisa jadi semacam menteri-menterinya Tuhan Yesus. Sehingga seringkali terjadi perdebatan diantara mereka, siapa yang terbesar diantara mereka, siapa yang layak dapat posisi di kiri dan kanan Tuhan Yesus. Mereka mau jadi yang terutama, yang paling penting.
Respon Tuhan Yesus tentang ini sungguh penuh dengan paradoks. Kejadian pertama saat Yohanes dan Yakobus minta dapat posisi di kiri dan kanan Tuhan Yesus (Markus 10: 42-45). Di situ Tuhan bilang bahwa siapapun yang ingin menjadi besar, haruslah menjadi pelayan. Siapa yang mau jadi terkemuka, haruslah menjadi hamba. Yang kedua saat selesai perjamuan makan, murid-murid bertengkar tentang siapa yang terbesar, di Lukas 22:24-30 jawaban Tuhan Yesus tetap serupa. Siapa yang mau menjadi yang terbesar, haruslah menjadi hamba.
Hal inilah yang juga ditekankan Paulus di kitab Filipi. Dia menasihatkan agar kita bisa menganggap orang lain lebih penting dari diri kita sendiri. Belajar menjadi serupa Kristus, yang telah mengosongkan dirinya dan tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai hak yang harus dipertahankan (ayat 6&7).
Satu-satunya manusia yang bisa memilih mau lahir dimana, dan memilih siapa yang bisa jadi orang tuanya adalah Yesus. Tapi lihatlah apa yang dipilihNya. Dia memilih lahir di kandang, kandang pinjaman pula. Dilahirkan dari pasangan yang sangat sederhana, ayahnya hanya seorang tukang kayu. Seumur hidupnya juga penuh dengan kesederhanaan, bahkan Dia banyak disalahmengerti, dicurigai, dihina, disiksa, dan lain sebagainya. Padahal Dia adalah Allah. Kalau mau bicara hak, dialah yang paling berhak dihormati, disanjung dan dimuliakan. Saat Dia akan ditangkap untuk disalib, Dia punya hak untuk memanggil malaikat-malaikatNya untuk membela Dia. Tapi itu semua tidak dilakukanNya. Dia mengosongkan diriNya, rela menjadi manusia, bahkan rela dipandang hina.
Di Eropa, banyak kerajaan-kerajaan yang saling berkunjung satu dengan yang lain. Suatu hari, datang seorang bapak dengan pakaian sederhana mengunjungi satu gereja di Inggris. Dia duduk di satu tempat duduk di bagian depan. Lalu datanglah seorang gadis bangsawan, dan saat melihat bapak ini dia langsung jadi tidak senang. Ini ternyata karena bapak tersebut duduk menempati tempat yang biasa dia tempati. Singkatnya, gadis ini lalu meminta ajudannya menyuruh bapak ini pindah. Bapak ini menurut, lalu duduk di bagian belakang. Setelah kebaktian selesai, gadis ini didatangi pastor di gereja tersebut. Pastor itu bertanya, ke mana bapak yang tadi duduk disini? Bapak itu adalah raja di Belgia. Gadis ini langsung jadi malu. Mau mencari raja tersebut untuk minta maaf, raja tersebut sudah tidak kelihatan lagi.
Seringkali kita juga bersikap seperti gadis ini, merasa lebih penting, merasa lebih berhak. Tapi bukan seperti itu panggilan Tuhan untuk kita. Tuhan memanggil kita untuk jadi pelayan. Posisi sebagai pemimpin yang Tuhan berikan bukan digunakan untuk menguasai orang lain, melainkan untuk melayani orang lain. Di Alkitab sebenarnya tidak ada istilah kepemimpinan. Banyak pemimpin luar biasa seperti Daud, Musa, Abraham.... tapi Tuhan tidak menyebut mereka sebagai ’pemimpinku yang setia’, melainkan sebagai ’hambaku yang setia’.
Menjadi hamba butuh kerendahan hati. Bukan artinya kita jadi merasa kecil, tak berarti dan tak punya dignity. Tapi menjadi hamba artinya kita mau mengosongkan diri kita, ourself and ego being made nothing, supaya kita bisa digunakan oleh Tuhan untuk melayani orang lain, dan menolong orang lain menemukan panggilan Tuhan dalam hidup mereka. Inilah yang disebut dengan kepemimpinan yang melayani. Dan untuk inilah kita dipanggil.
Showing posts with label Jesus' disciples. Show all posts
Showing posts with label Jesus' disciples. Show all posts
Friday, January 18, 2008
Monday, January 14, 2008
Be Strong in the Lord and Be of Good Courage
July' devotion
Reading from Matthew 14: 22 – 36 (Jesus Walks on Water)
Ada satu lagi keajaiban yang dilakukan Tuhan Yesus, yang diceritakan di Matius 14: 22 – 36, yaitu Tuhan Yesus berjalan di atas air. Kisahnya pendek, tapi ada begitu banyak hal yang bisa dipelajari dari sini. Lewat kisah ini saya rindu mengajak kita belajar dari setidaknya tiga tokoh yang ada di kisah ini, yaitu murid-murid Tuhan, Petrus, dan Tuhan Yesus sendiri.
Yang pertama, mari kita memikirkan tentang kisah ini lewat perspektif dari murid-murid Yesus. Situasinya adalah, murid-murid Yesus itu baru saja bersama Tuhan Yesus memberi makan 5 ribu orang. Lalu di ayat 22 dicatat, Tuhan memerintahkan mereka untuk naik ke kapal. Di terjemahan bhs Inggris dikatakan, Jesus made the disciples get into the boat. Jadi disini saya melihat bahwa mungkin murid2nya sedang buat sesuatu yang lain, mungkin mereka lagi heboh membahas keajaiban yg baru terjadi yaitu 5 ribu orang bisa makan bermodalkan 5 roti dan 2 ikan, mungkin ada yang mau menyuruh 5 ribu orang ini pulang dulu atau apa, tapi somehow, Jesus made the disciples get into the boat whether they like it or not. Sudah begitu, cuaca juga lagi buruk, dicatat bahwa angin kencang bertiup, kapalnya goyang2, Tuhan Yesus gak ada lagi, wah semua murid takut. Disini juga dibilang bahwa setelah menyuruh orang banyak pulang, Tuhan Yesus pergi berdoa dulu, gak langsung nyusul murid2Nya naik kapal, pakai naik ke atas bukit pula, jadi ada saat yang lumayan lama dimana murid2 dibiarkan sendiri di tengah ombak yg ganas. Mereka khawatir, mereka takut, suasana tegang. Keadaan begitu terus sampai subuh, dan tiba2 tampak bayangan putih mengapung di atas air yang berjalan mendekat ke arah kapal mereka. They cried out in fear, begitu kata Alkitab. Sungguh2 ketakutan.
Kalau kita analisa, rasa takut itu muncul sebenarnya dari rasa tidak aman. Dan rasa tidak aman ini muncul karena rasa tidak percaya. Seperti yang dibagikan pak Kresna, semakin kita kenal dekat dengan seseorang, semakin low risk yg kita hadapi karena kita tau orang ini seperti apa, kalau dia perilakunya sesuai dengan yg kita harapkan, kita bisa percaya padanya.
Nah, kalau balik lagi ke soal murid2 Tuhan, dari sini kita bisa melihat bahwa sebenarnya, mereka kurang mengenal Tuhan mereka. Di pasal2 sebelumnya diceritakan bagaimana murid2 ini menyaksikan keajaiban2 yang Tuhan buat. Tuhan sendiri juga sudah berulang kali mengingatkan agar murid2 jangan khawatir, di pasal 10 Tuhan bilang don’t be affraid, kamu jauh lebih berharga daripada burung. Jangan takut. Tapi begitu mereka sendiri yang mengalami masalah, mereka lupa tentang itu semua. Mereka bahkan tidak mengenali Tuhan Yesus, dipikirnya hanya hantu yang bisa jalan di atas air, lupa bahwa Tuhan bisa buat berbagai keajaiban. Murid2 kurang percaya, karena kurang mengenal Tuhan Yesus.
Yang kedua kita belajar dari Petrus. Petrus disini disorot secara khusus karena dia adalah seorang risk taker, dia berani mengajak bicara sosok di atas air yang semua orang lain pikir adalah hantu. Bahkan, dia berani menawarkan diri; ”Tuhan kalau itu Engkau, suruhlah aku untuk datang kepadaMu”, katanya. Saya bayangkan Petrus ini benar2 orang feeler banget yah, yg spontaneus begitu. Kalau thinker soalnya, dia akan berpikir2 dulu. Air itu kan tidak solid, jadi logikanya kalau diinjak tenggelam dong. Atau berpikir, kalau itu memang Tuhan amannya biar saja Tuhanlah yang ke sini gak perlu saya ke sana. Ini kelemahan thinker, terlalu banyak menghitung2 dengan logika, sehingga kalau disuruh percaya kadang susah, terlalu bersandar pada pikiran sendiri soalnya. Tapi Petrus tidak, dia tanpa berpikir susah2 langsung secara spontan merasa aman, oh kalau itu Tuhanku, aku pasti akan selamat. Dia berani ambil resiko karena dia punya iman.
Masalahnya adalah, imannya itu ternyata dangkal. Dengan mengikuti feelingnya dia sudah bisa jalan beberapa langkah, tapi di ayat 10 dibilang bahwa disaat dia merasakan tiupan angin, dia ketakutan, kehilangan imannya, dan mulai tenggelam. Petrus ternyata tidak jauh beda dengan murid2 yang lain. Awalnya punya iman, tapi begitu ada masalah (angin), dia sadar akan besarnya resiko dan jadi hilang percaya.
Nah, terakhir mari melihat kisah ini dari sisi Tuhan Yesus. Saat melihat murid2Nya takut, Dia berkata dalam terjemahan bahasa Inggris ayat 27: ”Be brave!! It is I, dont be afraid”. Jadilah berani, jangan takut! Kalimat ini sudah begitu sering Tuhan ucapkan. Ini bukan kali pertama Tuhan Yesus dan murid2 ada di situasi badai. Sebelumnya di pasal 8, waktu itu Tuhan sedang tidur dan kapal sedang dilanda badai. Menanggapi murid2 yang panik Tuhan berkata di ayat ke 26, ”your faith is so small! Why are you so afraid?” Tuhan terdengar gusar menghadapi murid2nya yang kurang percaya.
Teman2, Tuhan gak pernah minta kita untuk punya blind faith, alias main percaya aja tanpa ada dasar yang kuat. Kepada murid2nya Dia berkali2 mengeluarkan pernyataan yg encouraging; jangan khawatir, jangan takut. Selain di pasal 10 ada juga di pasal 6:30: rumput yang ada hari ini dan besok layu saja dipelihara. Apalagi kamu. Sekali lagi disitu Tuhan menegur kepada kita yg terlalu khawatir; “your faith is so small!”
Dia tidak saja berkata2. Lebih dari itu, Dia menunjukkan kuasanya lewat keajaiban2 yg gak bisa diolah pikiran, alias hanya iman saja yang bisa menjelaskan. Masalahnya, kita sering lupa tentang apa saja yang pernah kita lalui bersama Tuhan, pertolongan2 apa yang Tuhan pernah berikan saat kita sedang kesusahan. Sehingga begitu kita ada masalah, kita easily get discouraged. Seperti murid2Nya, kita lupa akan pertolongan2 Tuhan selama ini.
Mari kita lihat keajaiban2 yang pernah diperbuat Tuhan. Lewat keajaiban2 ini, bisa ditarik benang merah yaitu Tuhan mau menunjukkan bahwa yang terpenting adalah iman. Contohnya di pasal 8, Tuhan menyembuhkan orang yang sakit kusta. Orang kusta ini bilang, ”if you are willing (to heal me), You can do it”. jadi buat orang kusta ini, masalahnya bukan Tuhan Yesus bisa tidak nyembuhin saya. Orang kusta ini punya iman bahwa Tuhan bisa, yg jadi isu disini adalah Tuhan mau tidak? Dan ternyata karena melihat iman orang ini Tuhan menyembuhkan.
Masih di pasal 8, ada perwira yang memohon hambanya disembuhkan. Dia bilang, Tuhan gak usah repot2 datang, katakan saja sepatah kata dan dia pasti sembuh. Di situ dikatakan ’Jesus was amazed’, kagum dengan iman perwira ini. Tuhan bilang ’your faith is so strong’, dan karena itu keajaiban terjadi yaitu hamba perwira ini disembuhkan.
Pasal selanjutnya pasal 9, ada perempuan yang mengalami pendarahan. Dia beriman, asal bisa sentuh Tuhan saja, dia pasti sembuh. Dan melihat imannya Tuhan menyembuhkan dia, dan Tuhan bilang, “your faith has healed you”. Bukan kelebihannya, bukan kebaikannya, bukan pengetahuannya. Tapi yang menyembuhkan perempuan ini adalah imannya.
Buat Tuhan, iman itu adalah masalah yang sangat penting. Menanggapi orang buta yang minta disembuhkan, di pasal 9 Ayat 28 Tuhan bertanya: ’do you believe that I can do this?’ Tuhan kan bisa saja langsung menyembuhkan orang ini tanpa bertanya2. Jawaban orang ini tidak akan sedikitpun menambahkan atau mengurangi kemampuan Tuhan dalam menyembuhkan. Tapi Tuhan bertanya juga, karena Ia ingin mendengar pengakuan iman kita. Ngapain Ia melakukan keajaiban bila kitanya tidak percaya bahwa Ia sanggup. Dan selanjutnya, mendengar iman dari orang buta ini, di ayat 29 Tuhan berkata: ‘it will happen to you just as you believed’. Akan terjadi pada kita seperti apa yg kita percayai. It is in the state of mind.
Terakhir, yang saya pelajari adalah, Tuhan memang berjanji akan melindungi kita, tapi dia tidak pernah berjanji untuk meniadakan badai. Contohnya di pasal 14 ini. Tuhan kan tau bahwa Petrus akan ketakutan dengan angin yang besar. Dia juga mampu meniadakan angin itu agar Petrus dapat berjalan mendekatiNya dengan tenang. Tapi tidak, Dia tidak melakukannya. Dia membiarkan ada badai, ada angin kencang dalam kehidupan kita untuk melihat, kita punya iman gak bahwa dengan Tuhan kita akan mampu mengatasinya? Percaya gak bahwa Tuhan mampu menolong kita?
Perhatikan di bagian paling akhir dari pasal 13 dikatakan bahwa “Jesus did only a few miracles because they had no faith’. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama, membatasi pekerjaan Tuhan lewat kita karena kita tidak percaya Dia sanggup. Kadang kita suka terlalu ragu, apa kita mampu. Dan respon yg keluar saat Tuhan memberi tugas adalah seperti respon dari Musa, kita bargaining dengan Tuhan, kita bilang bahwa kita gak pandai bicaralah, gak bisa ini dan gak bisa itu... semua itu karena kita terlalu meragukan diri kita sendiri. Tetapi ingat bahwa di saat kita terlalu meragukan diri kita, itu sama juga dengan kita meragukan Tuhan (Sang Pemberi Tugas). Seakan2 kita ragu bahwa Ia akan sanggup memperlengkapi kita. Balik lagi ke pasal 14, 31, disitu Tuhan bilang: ”your faith is so small. Why did you doubt me?” Tuhan bertanya, kenapa kamu meragukan Aku? Kebayang kalo Tuhan itu mengatakan ini dengan nada tersinggung.
Di pasal selanjutnya Tuhan masih bersabar, dengan terus melakukan mujizat2 yg hanya bisa dimengerti dengan iman (lihat pasal 15: 28, 16: 8 – 10). Dan di pasal 17 ayat 14 – 27 dituliskan ttg Tuhan mengusir setan, hal yang tidak dapat dilakukan murid2Nya karena their ’faith is much too small’ (ay. 20). Di kisah ini dituliskan bagaimana Tuhan mengeluarkan respon yang sangat keras kepada murid2Nya, katanya (ay. 17) ”you unbelieving and evil people. How long do I have to put up with you?” Jangan buat Tuhan jadi tidak sabar dengan ketidakpercayaan kita.
Psalm 91:14, Tuhan berkata “I will keep him safe, because he trusts in me”. Tuhan hanya akan bisa bebas melakukan perkara2 yang besar lewat kita, jika kita percaya. Do you believe that I can do this? Tuhan bertanya kepada kita.
Labels:
courage,
faith,
Jesus' disciples,
Jesus' miracle,
Peter
Subscribe to:
Posts (Atom)
